Diskusi Terbatas MEMBEDAH PARIWISATA SUMBAWA MENUJU DESTINASI UNGGULAN

Taman Laut di Teluk Saleh

Kerjasama Pemprov NTB dengan PWI Cabang Sumbawa

Wisma Daerah, Sumbawa Besar, 11 Agustus 2011.

Abet Kamaruddin :

Ketua PWI Cabang Sumbawa, Abet Kamaruddin menjelaskan,  diskusi terbatas yang mengangkat tema Membedah Pariwisata Sumbawa menuju Destinasi Unggulan bertujuan untuk menyatukan persepsi tentang potensi pariwisata Sumbawa yang layak dijadikan destinasi unggulan.

Menurut  Abet, hal ini penting agar dapat terungkap potensi pariwisata Sumbawa yang layak dijadikan icon untuk memudahkan promosi ke dunia luar.

“Penetapan destinasi unggulan sangat penting untuk menetapkan mana potensi yang patut dijadikan destinasi unggulan bagi daerha ini,” kata Abet melalui sambutannya pada acara diskusi yang dilaksanakan di Wisma Daerah Sumbawa Kamis malam (11/7)Dikatakan, diskusi terbatas ini berawal dari inisiatif Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir yang menawarkan para wartawan di Sumbawa untuk menjadi penyelenggara.“Awalnya hanya spontanitas, tetapi rupanya mengingat esensi yang dihajatkan sangat strategis, sehingga kami merasa tertantang untuk berpikir inovatif terkait pariwisata di Sumbawa,” katanya.

Hadir pada acara diskusi terbatas ini, di antaranya Wakil Gubernur NTB  dan beberapa pejabat pemprov NTB , seperti, Staf ahli gubernur, Kadis Perkebunan,  Kadis Perikanan, Kadis Pertanian, Kadis Tamben dan Sekretaris Dinas Pariwisata.

Sementara pejabat Pemkab Sumbawa terdiri dari , Sekda Sumbawa, Bapedda, Kepala Diparbudpora dan Kadis Pertanian.

Hadir pula  Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa , Mustami H. Hamzah, Ketua Komisi IV dan Komisi II.

Di samping itu juga ikut serta, Rektor UNSA, Prof. DR . Syaifuddin Iskandar dan beberapa praktisi dunia pariwisata Sumbawa dan budayawan.

Abet mengungkapkan, sebenarrnya masih banyak kalangan yang ingin mengikuti dsikusi ini, namun sengaja dibatasi agar bisa menghasilkan kesimpulan yang berkulitas dan memiliki manfaat bagi perkembangan dunia kepariwisataan di Sumbawa.

“Kami telah menyeleksi 47 nama yang masuk nominasi untuk menjadi peserta. Agar diskusi ini menjadi menarik dan menghasikan  kesimpulan yang bagus, sehingga teroaksa kami seleksi kembali menjadi sekitar 20 peserta. Meski demikian di dalam buku tercatat sebanyak 41 orang yang hadir,” ujarnya.

Badrul Munir :

Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir memaparkan beberapa informasi  strategis dengan harapan dapat menjadi refrerensi bagi tataran kebijakan maupun operasional.

Poini pertama tentang kebijakan nasional, bahwa di dalam master plan percepatan ekonomi Indonesia, Propinsi NTB dalam koridor V, terdiri dari Bali, NTB dan NTT.

Ada 2 peran yang harus dimainkan di dalam Koridor V, yakni, sebagai penyanggah pangan nasional dan sebagai  pintu gerbang pariwisata nasional.

“inilah yang dilounching presiden RI beberapa bulan lalu. Kemudahan kebijakan nasional, khususnya NTB merupakan salah satu  dari enam destinasi nasional setelah Bali dan Menado. Ini peluang besar bagi NTB, ujar wagub.

Pemprov NTB sendiri memilki sektor ungguilan, yakni sektpr ekonomi agribisnis dan pariwisata.

Pada sektor agribisnis, NTB memiliki komoditas unggulan sepeti sapi dan jagung.

Sementara sektor pariwisata ,  propinsi NTB sedang mengembangkan pariwisata berbasis alam, budaya dan religi/spiritual.

Persoalannya, ungkap wagub, bagaimana skenario dari kebijakan pariwisata ini dalam mengemas istilah.

Bicara masalah pariwisata, kata wagub adalh sepandai-pandainya  daerah menjual keunikan.

“Seperti  pantai, unggulannya apa? Kita bicara pantai Saliper Ate, apa uniknya ? Bukan dari sisi banyaknya kita memiliki Sumber Daya Alam (SDA). Demikian pula budaya, apa uniknya? Kita punya keunikan barapan kebo dan main jaran, lalu kapan diselenggakan? Karena kita mau jualan, maka hal-hal seperti itu harus jelas,” tegas wagub.

Dia berharap pada diskusi ini tidak membahas sesuatu yang bersifat abstrak, seperti halnya bahan yang dbawa  Kadis Pariwisata Sumbawa ke Pemrpov NTB beberapa waktu lalu.

Dan hampir 80 persen dari dokumen yang dibawa pemerintah Kabupaten/Kota se – NTB  ke Mataram masih terlihat abstark.

“Berbeda dengan pengalaman saya saat mengikuti pelantikan Gubernur Sumbar beberapa waktu lalu. Saya dikasih lihat batu bersusun tigo yang kisahnya ditulis. Kalau dilihat dari bentuknya di kampung saya juga banyak yang seperti itu. Bedanya di kampung saya tidak ditulis. Saya yakin cerita itu dibuat-buat. Itulah pariwisata,” ujar wagub NTB yang berasal dari Kabupaten Sumbawa ini.

Dikatakan, dirinya sengaja mengajak otoritas pariwisata di Sumbawa, karena sampai detik ini belum terlihat master plan pariwisata NTB, melainkan  masih sebatas menyebut saja, belum nampak hebatnya.

Melalaui diskusi yang digelar Kamis malam sesusai menjalani sholat taraweh ini, wagub kembali menegaskan, salah satu kesimpulan Gubernur NTB dengan Presiden RI ketika mendiskusikan Koridor V yakni untuk menindaklanjuti percepatan pembangunan di bidang pariwisata termasuk pengembangan investasi di daerah.

Di bagian lain wagub menuturkan, Kamis sore (11/8) dirinya ke Desa Taloa Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa.

Pasalnya, pada bulan lalu dirinya didatangi tamu dari negara Belgia dengan menunjukkan sebuah buku yang menyebutkan bahwa, di Desa Taloa Sumbawa terdapat industri pandai besi yang membuat kapak, parang dan sebagainya.

Tiga orang tersebut, lanjut wagub, sedang melakukan riset terhadap aktifitas warga Taloa yang sudah dikenal sebagai pandai besi sejak 350 tahun atau 3,5 abad yang silam.

Dia berharap pemkab Sumbawa menyediakan lahan untuk menjadikan aktifitas pandai besi di Taloa sebagai sentra wisata.

Pemrov NTB akan membangun fasilitas supaya dapat dijadikan lokasi yang enak dikunjungi wisatawan.

Wagub menambahkan, pariwisata harus memiliki simbul penggerak utama, seperti  halnya pantai Senggigi di Lombok Barat.

Demikian pula harapannya untuk Kabupaten Sumbawa.

Sesuai RT/RW provinsi NTB, terdapat kawasan strategis di Teluk Saleh dan Tambora.

Pemprov akan menskenariokan kawasan Teluk Saleh dengan membangun pelabuhan di Ai Bari, Moyo Utara dan Calabai, Dompu sehingga tidak perlu berputar lagi.

Dari dermaga Ai Bari tengah dibangun jalan bypass ke Kota Sumbawa Besar.

“Inilah kawasan strategis yang merupakan hasil dari kordinasi kami dengan sesuai instruksi  presiden. Dan kawasan ini akan ditinjau langsung oleh Menko Ekuin dengan Sesneg setelah lebaran,” kata wagub.

Keunggulan-keunggulan wisata tersebut, lanjutnya, yang akan dikembangkan sesuai potensinya.

Dikatakan, nilai produksi Teluk Saleh 11,6 trilyun yang diperoleh dari rumput laut sebesar 3,6 trilyun, udang 5,16 trilyun dan selebihnya sektor perikanan di luar pariwisata.

Jika potensi Teluk Saleh  digabung dengan sektor wisata sudah pasti akan menghasilkan  nilai produksi yang jauh lebih besar.

Dia berharap hasil diskusi ini akan sangat berarti bagi pemprov NTB dalam menyusun rencana strategis dan rencana aksi untuk percepatan pembangunan bidang pariwisata di NTB.

Naziruddin :

Kepala Dinas Budaya Pariwisata dan Olah Raga Kabupaten Sumbawa, Naziruddin mengatakan berbicara tentang potensi pariwisata Sumbawa sesungguhnya wagub jauh lebih banyak tahu.

Namun demikian dirinya merasa perlu melaporkan  bahwa sudah dua bulan ini, pihaknya intens melakukan kajian dengan dibantu konsultan.

Guna mendukung program Pemerintah Propinsi NTB  Visit Lombok – Sumbawa, pihaknya  menamakannya Go Sumbawa 2012.

“Kenapa, karena kita ingin menonjolkan pariwisata asli Sumbawa.  Dari hasil konsultasi  dengan konsultan, Kabupaten Sumbawa memiliki potensi pariwisata biasa. Hanya saja penangannya belum luar biasa,” ungkap Naziruddin.

Seperti halnya pesona Tanjung Pasir di Pulau Moyo dengan leluasa dapat melihat sunset.

Demikian pula bila memandang matahari terbit dari Tambora akan terlihat kapal pesiar dari Maroko yang melintas dari pulau Komodo dalam perjalanan menuju Benoa Bali.

Menurut Naziruddin, persoalan klasik terkait potensi  pariwisata di Sumbawa adalah pemasaran.

Sementara itu arena main jaran (pacuan kuda dengan joki kecil) sudah mulai diperbaiki bulan depan.

Lebih jauh dijelaskan Naziruddin, bahwa pariwisata tidak berdiri sendiri, melainkan harus meliibatkan banyak sektor, baik teknis di lapangan maupun kebijakan.

“Kita punya sentra indusri tenun di Kecamatan Moyo, tetapi tidak memiliki kebijakan yang jelas untuk memberdayakan mereka.  Begitu pula kita tidak pernah memakai tenun Sumbawa untuk seragam,”  ungkapnya..

Di Hotel Amanwana Kre Alang (kain sarung) khas Bima bisa dipasarkan oleh Lembaga  Adat kepada wisatawan asing seharga Rp. 1 juta  perlembar.

Dan sebenarnya, teman-teman dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan harus bisa melakukan pembinaan terhadap para  pengrajin.

Begitu pula pandai besi di Taloa juga perlu disupport baik terutama dalam hal pemasaran.

Potensi lain yang juga perlu didukung yakni, bendungan Tiu Kulit dan Bendungan Batu Bulan.

Semua potensi itu sangat menantang untuk dikembangkan sehingga dapat menghasilkan konsep yang kongkrit.

Sedangkan potensi wisata budaya , diakui di daerah ini belum ada yang bisa menulis cerita yang menarik untuk dibaca oleh wisatawan.

Dijelaskan, pariwisata dibutuhkan tulisan-tulisan  tentang  cerita rakyat.

“Sebenarnya kita memiliki impian pengembangan kawasan Tanjung Menangis dan Pantai Goa. Ini bisa dirangkai menjadi sebuah cerita legenda yang sangat menarik untuk dikembangkan. Termasuk cerita  tentang Penobatan Sultan Kaharuddin IV di istana  Dalam Loka. Biasanya wisatawan ingin tahu apa masih ada keluarganya ? Lalu bagaimana hubungannya dengan pemerintahan,” paparnya.

Nazaruddin mengakui  hal-hal seperti itu belum ditata sedemikian rupa.

Dalam Loka belum ditata sedemikian rupa, meski dikaui istana raja itu merupakan salah satu destinasi yang dapat diunggullkan.

Namun yang terjadi belakangan ini, kondisi Dalam Loka hampir setiap saat dalam kondisi terkunsi. Dia berharap kepada Pemprov NTB agar dapat mengembangkan pariwisata di Sumbawa dengan mendorong investor  supaya bersedia menanamkan modalnya sehingga tidak bergantung pada dana APBD .

Naziruddin menyebutkan beberapa kendala yang dihadapi dalam meningkatkan potensi pariwisata di Kabupaten Sumbawa , diantaranya, belum mampu menjual potensi, banyak potensi  tetapi  modal masih kurang dan sebagainya.

Prof. DR. Syaifuddin Iskandar :

Rektor Universitas Samawa (UNSA), Prof. DR. Syaifuddin Iskandar, MPd,  mengungkapkan, sejauh ini pembangunan sarana wisata di NTB belum merata.

Porsi pembangunan pariwisata di pulau Lombok, hendaknya seimbang  dengan yang dilakukan pemprov di Sumbawa, sehingga beberapa obyek wisata di Sumbawa yang selama ini dalam kondisi buruk, bisa menjadi lebih baik.

“Terus terang penilaian saya selama ini terkait program pemprov NTB, Visit  Lombok – Sumbawa years 2012 masih terlihat sebatas wacana dan main-main. Mohon maaf sebab ketika kita hendak mempromosikan pariwisata NTB, namun kondisi pariwisata di Sumbawa sangat memprihatinkan dan memalukan. Apa kira – kira yang bisa kita jual ? Seperti tempat wisata Ai Beling dan Batu Tering, itu hanya nama saja, seperti tidak terurus,” ungkap rektor.

Karenanya ia berharap kepada pemerintah Propinsi NTB agar tidak sekedar berkonsentrasi untuk membangun infrastruktur pariwisata di Pulau Lombok semata, namun juga di Sumbawa.

Faktor lain yang juga menjadi tantangan serius di Sumbawa yakni pengaruh watak masyarakat yang sulit untuk diminta berinisiatif, kreatif dan inovatif, sehingga peran pemerintah sangat penting sebagai motivator dan fasilitator.

“Kita berbeda dengan orang luar. Di orang Sumbawa harus digerakkan, baru mau bertindk dan menghasilkan sesuatu,” jelas rektor.

Untuk itu pemerintah perlu turun – tangan paling tidak untuk memperbaiki infrastruktur obyek wisata yang ada.

Dia kembali menegaskan bahwa faktior mental  manusianya perlu diberi motivasi oleh pemeirntah. Disamping itu juga membutuhkan peran serta investor dari luar untuk pengembangan pariwisata di Sumbawa.

Mustami H. Hamzah :

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Mustami H. Hamzah mengungkapkan, semua anggota DPRD Sumbawa telah sepakat untuk menyerahkan pengelolaan pariwisata di Sumbawa dengan pihak ketiga.

“Tidak mungkin Kabupaten Sumbawa  yang memiliki kemampuan APBD sekitar Rp. 600 milyar bisa mengelola  pariwisata yang relatif membutuhkan biaya sangat tinggi,” ungkap Mustami yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Anggaran DPRD Kabupaten Sumbawa.

Padahal, bila dilihat dari sisi potensi Kabupaten Sumbawa tidak kalah dibanding dengan Lombok bahkan Bali.

Namun kondisi infrastruktur penunjang seperti kondisi jalan raya di Sumbawa relatif jauh lebih buruk dibanidng Lombok dan Bali.

Kendala untuk mengoptimalkan potensi – potensi yang ada sangat banyak, mulai dari infratsruktur jalan,  akses tranportasi udara dan faktor penunjang lainnya.

Dia mencontohkan potensi pariwisata di Batu Lanteh dan Batu Rotok dapat dijual, namun kendalanya infrastruktur jalan di wilayah itu sangat buruk.

Begitu pula dengan akses transportasi udara, juga masih menjadi bagian dari faktor penghambat datangnya wisatawan ke Sumbawa.

Untuk itu pihaknya mendorong Dinas Perhubungan NTB agar melakukan sinkronisasi pengembangan Bandara Brang Biji supaya bisa dilandasi oleh Foker 28 atau Boing 737 terbatas.

Ia menambahkan kawasan Batu Gong sangat bagus untuk digunakan sebagai tempat menjual potensi laut.

Demikian pula dengan potensi pariwisata di wilayah Sumbawa Selatan, seperti pasir putih di Kecamatan Lunyuk dan Labangka .

Begitu pula potensi pantai Maci yang lokasinya terletak di perbatasan Sumbawa – Dompu sangat menarik perhatian para wisatawan yang suka berselancar.

Ironisnya, meski pantai  Maci berada di Kabupaten Sumbawa,  namun hotelnya berada di Kabupaten Dompu.

Gani Selim :

Tokoh budaya Sumbawa, A. Gani  Selim, mengharapkan kepada pemerintah agar mengembalikan keaslian Dalam Loka (Istana Raja Sumbawa) yang banyak berubah setelah dipugar beberapa tahun lalu.

“Satu hal yang tidak bisa kita abaikan adalah potensi budaya yang letaknya di tengah kota Sumbawa Besar, yaitu istana Dalam Loka. Istana yang luar biasa tersebut dibangun dengan kayu-kayu berukuran besar.  Saya melihat perkembangan pemugaran istana Dalam Loka sejak tahun 1979 hingga rampung tahun 2010 dipegang oleh BP3 Bali. Dan hasil rehabnya sangat  memperihatinkan. Setiap kali pemugaran terjadi korban. Mungkin karena ada sesuatu yang tidak diperhatikan oleh pemugarnya,” ungkap budayawan ini.

Sedikitnya 25 atribut istana dalam loka, lanjut Gani, telah hilang. Celakanya, kejadian ini tidak ada yang tahu.

“Tiang-tiang  istana tidak mau tegak dan dindingnya miring. Demikian pulau motif yang bernuansa primitif tidak digunakan oleh pelaksana pemugaran, sehingga penampilannya tidak mengekspresikan spirit budaya Sumbawa dan telah dinodai dengan nilai-nilai lain,” keluh Gani.

Bahkan kalau dikaji bentuk seni rupanya, istana Dalam Loka memiliki  ukiran yang unik hanya satu-satunya di dunia.

Karena dunia sangat menaruh perhatian yang besar terhadap istana Dalam Loka, sambung Gani, maka diharapkan kepada pemerintah propinsi NTB untuk mengembalikan keasliannya seperti semula.

“Kita sudah berhasil mengidentifikasi semua atribut yang hilang tersebut. Dan kita bisa membuat duplikatnya,” kata Gani.

Monumen di Sumbawa dihiasi dengan nuansa etnik daerah, kata Gani, akan mengundang semangat masyarakat untuk menghargai budaya sendiri.

Menurutnya, simbol budaya istana Dalam Loka hingga sekarang ini belum dimaksimalkan menjadi potensi wisata Sumbawa.

Iwan Tambora :

Praktisi pariwisata, Iwan Tambora  mengusulkan kepada pemerintah agar dapat membangkitkan kemauan masyarakat untuk membuat souvenir berupa kerajinan tangan.

“Pemerintah  bisa meminta kepada setiap kepala desa untuk mendorong warganya membuat kerajinan apa saja. Hasil kerajinan itu nantinya akan dibuat souvenir khas Sumbawa yang dapat dibawa pulang oleh wisatawan,” ujar pengelola Hotel Tambora ini.

Disamping itu, tambahnya, pemeirntah juga perlu mengadakan even-even perlombaan yang bernuansa budaya, sekaligus untuk memperkenalkan Sumbawa dan Lombok pada  mancanegera.

Sejauh ini, kata Iwan, yang dikenal piawai membuat kerajinan adalah warga Lombok. Sedangkan  warga Sumbawa masih kurang.

“Kalau kita berniat menjual budaya, maka souvenir juga perlu diadakan. Ini sangat penting dilakjukan secara bersamaan,” kata Iwan.

Kerajinan dari Pulau Lombok, lanjutnya , sering mendapat pesanan dari luar negeri.  Setiap pengiriman, sediktnya 10 kontainer yang terdiri dari berbabgai macam kerajinan hasil karya masyarakat setempat.

Sebenarnya, kata Iwan, Sumbawa memiliki keunikan tersendiri dari sisi coraknya yang bernuansa primitif.

Dan hal ini merupakan potensi yang perlu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bisa go internasional.

Rasmini :

Mantan Ketua HBI Cabang Sumbawa, Rasmini, mengatakan, masih banyak yang perlu dibenahi terkait pelaksanaan program Visit Lombok – Sumbawa Years 2012.

“Kalau kita bicara pariwisata, maka akses transportasi harus segera dibenahi , baik transportasi  udara maupun darat. Apalagi kita ingin menjadikan obyek wisata di Sumbawa sebagai destinasi unggulan,” jalas rasmini.

Pada umumnya, ungkap Rasmini, setiap tamu sudah memiliki jadwal yang sudah ditata.

Menurutnya, transportasi udara tidak mesti setiap hari, 3 sampai 4 kali seminggupun tidak masalah. Yang penting  waktunya konstan sehingga relevan dengan skedul dan jadwal yang dimiiki pengelola hotel.

Mengenai kelengkapan akomodasi , kata Rasmini, di Sumbawa  sudah cukup banyak.

Menurutnya, yang penting adalah peningkatan kualitas pelayanan terhadap tamu hotel.

Dia menyarankan kepada Dinas Pariwisata agar dapat bekerjasama denga pemilik hotel untuk melakukan pelatihan atau training dasar pelayanan hotel.

Pembenahan akomiodasi dan obyek wisata, perlu diperhatikan. Banyak  obyek wisata, tapi belum memiliki standar pelayanan. Seperti hlanya Salipera Ate , sebnarnya  bisa dibuat seperti Labu Pade dengan cara Pemda melakukan sharing dengan pihak ketiga..

“Prinsip pengelola hotel maupun tempat wisata, satu tamu kecewa seribu tamu hilang. Dan sebaliknya satu tamu senang, akan banyak tamu lainnya yang akan berkunjung,” terangnya.

Iskandar Damhudji

Ketua Dewan Kesenian Sumbawa (DKS), Iskandar Damhudji  menekankan, dalam konteks kunjungan wisata harus berangkat dari motivasi yang diperkuat dengan memperjelas tema demi tema, sehingga muncul kesan obyek wisata tematik dan setiap orang tidak meraba-raba lagi.

“Prosedur harus jelas, sistem jelas, harapan jelas, pola pengintegrasian jelas, daerah transit jelas, asal wisatawan juga jelas, sehingga agenda wisatawan pun menjadi jelas, teratur, terintegrasi menjadi serba lancar,” kata Iskandar.

Dia menyebutkan, ada tiga wilayah dalam pengembangan konsep pariwisata, meliputi daerah asal, luar negeri dan dalam negeri.

Jika Sumbawa dinyatakan sebagai daerah transit, katanya, maka harus jelas pola perencanaannya.

Daerah transit, harus bisa mengatur irama pariwisata di suatu wilayah.

“Bila daerah transit tidak mampu membagi, maka hancurlah daerah tujuan. Apalagi kalau serakah menjadikan daerah  transit sebagai daerah tujuan. Sehingga desain pariwisata hanya akan mempertontonkan bualan-bualan pariwisata,” jelas Iskandar yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian Pembangunan Setda Sumbawa.

Menurutnya, pembnagunan pariwisata di Sumbawa perlu menggunakan pendekatan fungsional.

Terkait rencana pengembangan wilayah Teluk Saleh, tegas Iskandar, tidak bisa mengabaikan Kabupaten Dompu.

Demikian pula pengembangan Pulau Moyo tidak boleh mengabaikan Kabupaten Bima.

Konteks pengembangan, terang Iskandar, tidak boleh dibatasi oleh wilayah administratif, sehingga akan memudahkan proses pengembangan pariwisata ke depan.

Dan sumber daya yang akan dikembangkan, tambahnya, Kabupaten Sumbawa sudah memiliki data dan nama lokasi pariwisata termasuk situasi terkini.

Dipaparkan, ada beberapa hal di luar obyek tersebut  yang harus menjadi fokus perhatian, meliputi,  fasilitas pariwisata yang belum memadai, keterbatasan fasilitas umum untuk menunjang pariwisata , kesiapan dan keterlibatan masyarakat.

“Dalam konsep usaha pariwisata, dibutuhkan tangan kreatif.  Namun  yang perlu dipikrikan,  apakah kreatifitas masyarakat tumbuh dulu atau sebaliknya,” tanya Iskandar.

Ir. Thalib

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. A. Thalib menyebutkan beberapa program instansi yang dipimpinnya untuk menunjang pariwisata.

“Jagung merupakan satu dari tiga komoditas unggulan Kabupaten Sumbawa disamping sapi dan rumput laut,”ungkap Thalib.

Menurut Tahlib, Kabupaten Sumbawa memiliki potensi jagung yang luar biasa yang memiliki luas lahan sekitar 25.000 hektar tahun 2010.

Melalui  komoditas jagung, diyakini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Sumbawa.

Dikatakan, produktifitasnya sangat tinggi, yakni 12 ton per hektar.

Dari sudut pariwisata, katanya, hamparan tanaman jagung saat berumur 0,5 hingga 2 bulan merupakan pemandangan yang menarik bagi wisatawan.

Dia mencontohkan indahnya hamparan tanaman jagung di Kecamatan Labangka .

“Dari bukit Labangka, kita biasa melihat laut Selatan sambil menikmati indahnya hamparan tanaman jagung,” ungkap Tahlib.

Karenanya Kecamatan Labangka bisa menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan yang cukup menarik.

Ir. Mukmin

Kepala Dinas Peternakan, Ir. Mukmin mengatakan, kawasan Teluk Saleh merupakan penyanggah program Bumi Sejuta Sapi (BSS).

“Kami sudah integrasi semua sektor dan sudah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata bahwa kawasan Teluk Saleh sangat bagus.  Kami sudah setting plan, Insya Allah minggu depan selesai,” ujar Mukmin.

Demikian pula pihaknya telah berkoordinasi  dengan asosiasi  pacuan kuda dan barapan kerbau.

Menurutnya, hal yang penting dipikirkan dalam pengembangan pariwisata, harus memiliki agenda skedul kunjungan pariwisata.

Kabupaten Sumbawa merupakan daerah yang memiliki sumber daya genetik ternak, kerbau, sapi dan kuda.

“Kami sudah mencoba menginventarisir kuda poni sekitar 250 ekor. Rencananya kuda poni tersebut akan dikembangkan  di satu kawasan khusus, sehingga diharapkan dapat mengundang daya tarik bagi wisatawan,” paparnya.

Badrul Munir

Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir mempertanyakan soal destnasi pariwisata yang dapat diunggulkan di antara potensi yang ada.

“Mana destinasi yang mau kita jual? Sumbawa ini loh yang mau kita kembangkan.  Konektifitasnya mana ? Misalnya Dalam Loka mau kita apakan? Kita harus memilih. Inilah artinya perencanaan,” jelas wagub.

Wagub menyebutkan beberapa destinasi unggulan yang menjadi prioritas.

Dalam Loka, menurutnya  harus diintegrasikan dengan masjid Nurul Huda untuk dijadikan pusat studi kebudayaan Sumbawa.

“Kita harus bebaskan ini, sebab merupakan fasilitas vital yang sangat diperlukan,” tegasnya.

Burhanuddin AB

Anggota Komisi II DPRD Sumbawa Burhanuddin AB menyebutkan, Pulau Moyo dan sekitarnya memilki potensi wisata yang luar biasa.

“Kami melihat ada alam yang begitu menjanjikan untuk pariwisata yaitu alam bawah laut dan hutan, wisata laut dan wisata gunung  ada air terjun. Apalagi wisata laut Pulau Moyo sudah terkenal di Mancanegara kerap dikunjungi wistawan kelas atas, yakni Amanwana Resort,” katanya.

Ia melihat obyek wisata laut maupun gunung di Pulau Moyo ada untuk kelas atas dan kelas menengah. Sementara kelas menengah tidak disentuh, dan hanya menjadi persinggahan wsiatawan tujuan Bima dan Pulau komodo.

“Bagaimana agar Pulau Moyo itu menjadi wisata tujuan, sebab memiliki dampak multiflier efek yakni perputaran uang di wilayah itu. Contohnya, Takat Sagele di Pulau Moyo, hendaknya dibuatkan tempat kapal bersandar paling tidak 10 meter persegi. Bagaimana kapal pesiar dari Bali tujuan Satonda bisa berlabuh, kalau tidak ada fasilitas memadai di darat? Disana ada jenis ikan kerapu tidak terdapat di tempat lain,” katanya.

Pariwisata budaya, kata dia, bisa dikembangkan di wilayah itu, di  Labu Aji, bisa dijadikan obyek Desa Adat, rumah panggung sehingga wisatawan bisa berkunjung dan menginap di sana.

Sambirang Ahmadi

Ketua Komisi IV DPRD Sumbawa, Sembirang Ahmadi, menyatakan, sebetulnya pariwisata butuh orang’sedikit gila karena memberi unggulan bagi pariwisata.

Dalam APBD-P 2010 Pemda membuat rencana induk pengembangan pariwisata daerah.

“Ini harus mengacu pada RTRW. ini yang harus kita selesaikan sebagai dasar untuk pengembangan pariwisata,” tukasnya.

Menurutnya, wisma daerah menjadi tujuan utama baru ke Pulau moyo, Kota menjadi pusat informasi pariwisata atau bisa menjadi sumber pendapatan, lembaga adat, even pelantikan Sultan dikenang oleh dunia.

Badrul Munir

Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir mengatakan, secara normatif Propinsi NTB sudah memiliki RT/RW, sambil tata ruang dalam proses karenanya perencanaan pariwisata ini harus bisa jalan.

“Kalau momentum  destinasi unggulan ini dilewatkan, maka sulit untuk memasukkkan kembali  karena saat ini Pemprov NTB sedang menyusun program Visit Lombok Sumbawa years 2012,” tegas wagub.

Melalui kesempatan itui, wagub mengungkapkan pada tanggal  13 – 15 Desember mendatang akan  diadakan even balap sepeda kelas dunia. Berkaitan dengan  rencana tersebut, pihaknya telah mengkomunikasikan dengan Menpora Andi Malarangeng.

Tour de Lombok – Sumbawa diikuti oleh 5 Tim Luar Negeri dan 15 Tim Dalam Negeri.

Jarak tempuh 400 Km dengan rute, Mataram – Pemenang – Ampenan – Gerung – BIL – Praya – Kediri – Cakranegara – Kopang – Masbagik – Kayangan – Tano – Taliwang – Sumbawa Besar (Finis).

Kegiatan balap sepeda tersebut telah lolos kelayakan dari ISSI dan Asosiasi Balap Sepeda Internasional.

Diharapkan Kabupaten Sumbawa dapat memanfaatkan multyplayer efek dari kegiatan itu.

“Balap sepeda satu-satunya di dunia yang akan melintasi selat.  Setelah sampai di Kayangan, para peserta naik kapal sekaligus menginap. Pagi hari kembali menghambil start di Poto Tano – Taliwang – finis di Sumbawa  Besar. Demikian pula akan ada parade perahu  yang diikuti 1.000 sampan  di Teluk Kayangan. Saya sudah koordinasikan untuk diadakan kapal perang.” papar wagub.

Ditegaskan, bulan Desember telah ditetapkabn sebagai Bulan Citra Budaya NTB dan Kabupaten  Sumbawa akan ditetapkan sebagai tuan rumah. Padahal, ujarnya, sampai hari ini, Kabupaten Dompu tetap meminta untuk bisa menjadi tuan rumah.

Wagub menambahkan, pemprov NTB  telah mensetting Labuhan Mapin sebagai daerah wisata bahari.

Pihaknya telah berkoordionasi dengan Menteri Sosial  RI, supaya pemukiman di Labuhan Mapin dapat dilaksanakan program bedah rumah.

Menurut rencana, katanya,  Mensos akan berkunjung ke Labuhan Mapin. Dan rencananya pentepan Labuhan Mapin seagai daerah wisata bahari akan diresmikan pada HUT Provinsi NTB tahun ini.

Kesimpulan,

Sekda Sumbawa, Mahmud Abdullah  menetapkan beberapa orang sebagai perumus, diantaranya  Kadisd Pariwisata Kabupaten Sumbawa ( Naziruddin ), Wakil Ketua DPRD Sumbawa  ( Mustami H. Hamzah), Ketua Komisi IV DPRD Sumbawa (Sambirang Ahmadi), Kepala Bagian APP Setda Sumbawa (Ir Iskandar) dan Ketua PWI Cabang Sumbawa (Abet Kamaruddin).

Sekitar 50 titik tujuan (destinasi)  obyek pariwisata Kabupaten Sumbawa  ditetapkan beberapa titik berikut konektivitasnya.

Diantaranya, Istana Dalam loka,  yang dipusatkan untuk wisata budaya, Semongkat (wisata alam), Dam Batu Bulan (Wisata tirta, Sejarah dan Budaya), Labuhan Mapin (Wisata Bahari), Pulau Moyo, dan Empang Tarano.

Adapun rincian rumusan tersebut meliputi, Istana Dalm Loka (wisata Budaya)  koneksitasnya Mesjid Jamiq, Wisma Dawrah, Bala Kuning, Dalam Karang Pekat, Kecamatan Moyo  direncanakan menjadi lokasi Main Jaran, yakni di Desa Penyaring, Ngeru dan Prajak.

Kemudian Desa Maronge akan dijadikan pusat untuk Barapan Kebo.

Untuk obyek wisata Semongkat (Wisata Alam), dikonektivitaskan ke Batu Dulang, Tepal, Pamulung, Saliper Ate, Batu Gong, Pantai Goa, Tanjung Menangis, Pantai Kencana.

Dam Batu Bulan (Wisata Tirta, Sejarah dan Budaya), dikonektivitaskan ke Batu Tering, Liang Petang, Ai Beling dan Dusun Talwa.

Desa Labuhan Mapin (Wisata Bahari), dikonektivitaskan ke   Pulau Bungin, Pulau Kaung, Pulau Keramat, Pantai Labuhan Pade, Agro Tamase.

Sementara itu, Pulau Moyo dikonektivitaskan ke Labuhan Aji, Tanjung Pasir.

Untuk Empang Tarano, dikonektivitaskan dengan obyek wisata di Labu Bontong, Labu Jambu, Pantai Maci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s