Kisah Tambora, Kuda dan Kayu Sepang

Oleh Bernice de Jong-Boer

(Researcher at the Royal Institute of Linguistics and Anthropology –KITLV)

Sejauh ini, saya telah menyelidiki tiga tema yang relevan dengan sejarah lingkungan di Pulau Sumbawa.

TTambora Sumbawa Indonesia.ema pertama adalah letusan Gunung Tambora pada bulan April 1815. Letusan ini telah dicatat dalam Guinness Book of Records sebagai letusan terbesar di zaman modern. Letusannya memiliki konsekuensi drastis untuk pulau Sumbawa. Banyak penduduk meninggal, tidak hanya sebagai akibat langsung dari letusan, melainkan juga akibat kelaparan pasca letusan.

Permukaan tanah ditutupi dengan lapisan tebal abu, membuat lahan pertanian tidak bisa digarap. Situasi ini diperparah lagi dengan macetnya akses perdagangan selama bertahun-tahun. Puluhan tahun masyarakat di pulau ini menderita akibat peristiwa dramatis sebagai titik balik dalam sejarah lingkungan Sumbawa.

Pada abad ke-16, Sumbawa sudah terkenal dalam perdagangan dua produk, masing-masing kuda dan kayu sepang (sappan).

Kuda-kuda Sumbawa dikenal memiliki stamina dan daya tahan yang bagus mendapat permintaan pasar dari pulau Jawa dan Sulawesi Selatan. Pulau Sumbawa sangat ideal untuk peternakan kuda karena didukung oleh kondisi alam yang memiliki padang rumput sabana membentang luas di daratannya.
Kondisi ini sangat identik dengan budaya masyarakatnya yang suka berladang sekaligus merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk. Kondisi kritis akan dialami oleh hewan ternak ketika datangnya musim kering.
Beberapa orang menganggap, dengan terbiasanya hidup di lahan kering menjadi salah satu alasan kuda-kuda Sumbawa memiliki stamina yang kuat.

Kayu Sepang (Sappan) yang berasal dari hutan Sumbawa merupakan komoditas yang banyak dicari pada jaman itu. Kayu berwarna merah ini merupakan tanaman multi fungsi. Selain sebagai zat pewarna, kayu yang sangat keras tersebut juga dikenal tahan lama sehingga sering digunakan untuk membangun rumah-rumah penduduk dan bahan pembuat kapal. Disamping diekspor ke daerah tetangga, kayu sepang juga mengundang daya tarik VOC untuk dipasarkan ke Eropa dan Jepang.
Pada 1669, Belanda membuat kontrak dengan sultan-sultan Sumbawa untuk menjamin pengiriman kayu ini. Para sultan memerintahkan sejumlah orang laki-laki untuk menebang kayu-kayu sepang di dalam hutan di pegunungan dan selanjutnya membawa kayu ke pantai. Selanjutnya kayu-kayu tersebut diangkut dengan kapal-kapal milik VOC untuk dikirim ke Batavia. Itu tidak berlangsung lama, sebab pengiriman kayu sepang ini menunjukkan tanda-tanda tidak menentu, dimana kayu-kayu ini sudah mulai langka lantaran sering ditebang dalam jumlah besar. Menghadapi fenomena kelangkaan itu, sehingga kayu yang memiliki daya regenerasi yang kuat tersebut ditanam kembali setelah dipanen. Sistem regenerasi pasca panen ini bertahan selama lebih dari dua abad dan tidak menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan, seperti deforestasi atau erosi.

Perdagangan kuda dan kayu sepang mulai runtuh akibat letusan Gunung Tambora pada 1815. Sekitar tahun 1830 perdagangan kedua komoditas tersebut sempat kembali baik, namun menurun lagi pada pergantian abad. Saat itu perdagangan produk utama Sumbawa dipengaruhi oleh munculnya penemuan-penemuan yang terjadi di benua lain. Pewarna buatan diciptakan sekitar tahun 1870 dan sekaligus menggantikan fungsi kayu sepang yang alami.

Pada awal abad ke-20 kendaraan bermotor mulai menggantikan tenaga kuda. Akibatnya, permintaan untuk kayu sepang dan kuda dari Sumbawa menurun drastis. Saat ini, kuda dan kayu sepang masih dapat ditemukan di pulau Sumbawa. (PSa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s